Narita Shibori Tumbuh Jadi UMKM Inklusif Berkat Pendampingan Pertamina
JAKARTA – Perjalanan Narita Shibori menunjukkan bahwa pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga akses terhadap pembiayaan, pelatihan, promosi, dan pasar.
Usaha fesyen berbasis teknik pewarnaan kain shibori yang didirikan Anarita di Bandung tersebut awalnya berkembang dalam skala rumahan. Keterbatasan modal dan akses promosi menjadi tantangan yang harus dihadapi untuk meningkatkan kapasitas usaha.
Titik balik terjadi pada 2019 ketika Narita Shibori bergabung sebagai UMKM binaan PT Pertamina (Persero). Melalui program pembinaan berkelanjutan, usaha tersebut memperoleh dukungan pembiayaan, peningkatan kapasitas melalui UMK Academy, hingga kesempatan mengikuti berbagai pameran di dalam dan luar negeri.
"Kami mendapat modal kerja untuk produksi, bantuan pemasaran skala nasional hingga internasional, serta pelatihan melalui Pertamina Academy," ujar Anarita.
Pendampingan tersebut turut mendorong pertumbuhan bisnis Narita Shibori. Dalam beberapa tahun terakhir, omzet usaha tersebut meningkat hampir tiga kali lipat.
Produk Narita Shibori juga telah dipasarkan melalui berbagai ajang nasional, seperti Inacraft, SMEXPO, Kriya Nusa, dan Tunjukkan Indonesiamu. Kesempatan memperluas pasar internasional turut diperoleh melalui keikutsertaan dalam DMI Utrecht di Belanda pada 2024.
Namun, bagi Anarita, keberhasilan bisnis tidak semata-mata diukur dari peningkatan omzet dan luasnya pasar. Ia juga ingin usaha yang dibangunnya memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk kelompok penyandang disabilitas.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kolaborasi dengan Rumah Hasanah. Selama tiga tahun terakhir, Narita Shibori melibatkan 12 penyandang disabilitas dalam proses produksi.
Karya mereka kemudian diolah menjadi berbagai produk fesyen dan tote bag. Narita Shibori juga tengah mengembangkan hasil kolaborasi tersebut untuk produk dekorasi rumah atau home decor. Saat ini, sekitar 10 persen produksi Narita Shibori berasal dari kolaborasi tersebut.
"Kami sudah tiga tahun berkolaborasi dengan Rumah Hasanah. Karya mereka kami padupadankan menjadi produk fashion, tote bag, dan ke depannya home decor. Karena karya mereka memang layak dihargai," katanya.
Menurut Anarita, pemberdayaan penyandang disabilitas bukan sekadar kegiatan sosial. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem usaha yang memberikan kesempatan bagi lebih banyak orang untuk berkarya, memperoleh penghasilan, dan berkembang bersama.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan pembinaan UMKM merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam memperluas dampak ekonomi melalui penguatan kapasitas pelaku usaha.
"Pertamina meyakini UMKM merupakan penggerak utama ekonomi nasional. Karena itu, pembinaan yang kami lakukan tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas bisnis, tetapi juga membuka akses terhadap pembiayaan, pasar, dan jejaring usaha agar UMKM mampu tumbuh lebih kompetitif sekaligus menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya," ujar Baron.
Baron menilai perjalanan Narita Shibori memperlihatkan bahwa pertumbuhan UMKM dapat memberikan dampak lebih luas ketika didukung akses dan pendampingan yang tepat. Peningkatan skala usaha tidak hanya berkontribusi terhadap omzet, tetapi juga membuka ruang ekonomi yang lebih inklusif bagi kelompok rentan.
Penguatan sektor UMKM sendiri menjadi salah satu faktor penting dalam perekonomian Indonesia. Sektor tersebut disebut berkontribusi sekitar 60,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional. Namun, kontribusi UMKM terhadap ekspor masih sekitar 15,7 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya peningkatan kapasitas, inovasi, kualitas produk, serta akses pasar agar semakin banyak UMKM Indonesia mampu menembus pasar global.
Program pembinaan UMKM Pertamina juga diarahkan untuk mendukung agenda pemerintah dalam memperkuat kewirausahaan, mengembangkan industri kreatif, serta memperluas kesempatan ekonomi yang inklusif.
Upaya tersebut sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs), khususnya SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan.
Editor :Yefrizal
Source : Warna Komunika