Satgas Karhutla Perkuat Pencegahan Kebakaran Gambut di Wilayah Riau
Foto ini merepresentasikan dedikasi para petugas yang berjuang melawan cuaca ekstrem dan asap tebal demi menjaga kualitas udara dan kelestarian hutan di Bumi Lancang Kuning.
PEKANBARU – Upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan TNI AD, Polri, BPBD, Manggala Agni, dan masyarakat peduli api. Langkah ini difokuskan untuk mencegah kebakaran di kawasan gambut yang rawan memicu kabut asap dan gangguan kesehatan masyarakat.
Penanggulangan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi mencakup rangkaian upaya komprehensif mulai dari pencegahan, pemadaman, hingga pemulihan pascakebakaran.
Strategi ini dirancang untuk meminimalkan kerusakan ekosistem, mencegah polusi asap, serta melindungi masyarakat dari ancaman infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Di lapangan, Satgas Karhutla menjadi ujung tombak pelaksanaan tugas. Unsur TNI AD melalui Korem 031/Wira Bima dan para Babinsa berperan aktif dalam patroli, sosialisasi, dan respons cepat saat muncul titik panas. Kegiatan ini diperkuat Polri melalui Bhabinkamtibmas dan tim penegakan hukum, BPBD, Manggala Agni, serta relawan Masyarakat Peduli Api (MPA) dari desa-desa setempat.
Wilayah fokus penanganan meliputi kawasan rawan karhutla di Provinsi Riau, khususnya lahan gambut dalam di Kabupaten Bengkalis, Kota Dumai, Kabupaten Pelalawan, serta Indragiri Hilir dan Hulu. Daerah-daerah ini dinilai memiliki tingkat kerawanan tinggi, terutama saat memasuki musim kemarau.
Pencegahan dilakukan sepanjang tahun dan diintensifkan menjelang musim kering, umumnya pada periode Februari–April serta gelombang kedua Juni–Agustus. Sementara itu, proses pemadaman dilaksanakan dengan pola respons cepat 1x24 jam setelah satelit mendeteksi hotspot atau firespot.
Strategi penanganan dibagi dalam tiga tahap. Pada tahap pre-emtif, Babinsa turun langsung ke desa-desa memberikan edukasi larangan membakar lahan dan membantu masyarakat mencari metode pembukaan lahan tanpa api. Tahap preventif dilakukan dengan pembangunan sekat kanal dan embung air guna menjaga kelembapan gambut.
Sedangkan tahap represif dilakukan melalui pemadaman darat menggunakan mesin pompa air dan sekat bakar, serta dukungan udara berupa water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Kolaborasi ini menegaskan bahwa penanggulangan karhutla di Riau bukan sekadar memadamkan api, tetapi membangun sistem deteksi dini dan kesadaran kolektif masyarakat agar kebakaran tidak terjadi sejak awal.
Editor :Tim Sigapnews
Source : informasi