Di Pinggir Parit, Babinsa dan Tawa Anak-anak Menjadi Cerita Sore di Delima
Babinsa Koramil 06/Sukajadi Kodim 0301/Pekanbaru, Serka Toni Efendi memilih untuk ikut duduk bersama mereka. Tidak ada jarak.
Pekanbaru - Sore itu, seragam loreng tak berdiri tegap di tengah barisan. Tak pula berada di ruang rapat atau di balik meja.Seragam loreng itu justru tampak berjongkok di bibir sebuah parit.
Di tangannya, sebuah ember putih. Di hadapannya, sekitar lima anak laki-laki asyik bermain di dalam air parit yang keruh dan berlumpur. Pakaian mereka telah basah. Lumpur menempel di kaki dan tubuh. Namun, wajah-wajah kecil itu tetap memancarkan kegembiraan.
Sesekali terdengar teriakan.
“Ikan... ikan...!”
Suara itu disambut tawa anak-anak lainnya.
Di tengah suasana sederhana itulah Babinsa Koramil 06/Sukajadi Kodim 0301/Pekanbaru, Serka Toni Efendi memilih untuk ikut duduk bersama mereka. Tidak ada jarak. Tidak ada suasana formal. Ada hanyalah percakapan ringan, canda dan perhatian seorang Babinsa kepada anak-anak di wilayah binaannya.
Peristiwa kecil namun penuh kehangatan itu terjadi di Jalan Pertanian ujung Kelurahan Delima Kecamatan Binawidya, pada Minggu sore (6/9/2026), sekitar pukul 16.30 WIB.
Parit dengan air kecokelatan yang dangkal, mungkin bagi sebagian orang hanyalah saluran air biasa. Namun bagi anak-anak sore itu, tempat tersebut berubah menjadi arena petualangan.
Dengan tangan kecil mereka, anak-anak itu mencoba menangkap ikan yang bergerak di antara lumpur dan rerumputan di dasar parit. Sesekali mereka menyelamkan tangan ke dalam air. Sesekali pula mereka saling berteriak ketika mendapati sesuatu bergerak.
Keseruan semakin terasa ketika beberapa ekor ikan gurami dan nila berhasil ditangkap.
Sorak kegembiraan pun pecah.
“Dapat... dapat!”
Anak-anak itu berlomba menunjukkan hasil tangkapannya kepada teman-teman dan Serka Toni yang sejak tadi memperhatikan dari bibir parit.
Bayu Nadira, salah seorang anak mengaku senang karena sore itu hasil pencarian mereka tidak sia-sia.
“Asyik, tadi dapat ikan nila dan gurami. Kami senang kalau dapat ikan seperti ini,” ujarnya polos sambil memperlihatkan hasil tangkapannya.
Namun, di balik tawa dan keseruan itu, Serka Toni Efendi tidak melewatkan kesempatan untuk menyampaikan pesan sederhana.
Dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak, ia mengingatkan mereka agar tidak terlalu larut dalam permainan hingga melupakan keselamatan.
“Boleh bermain dan bergembira, tapi tetap harus hati-hati. Airnya kotor, jangan sampai terlalu lama bermain di dalam parit. Kalau sudah selesai, segera bersihkan diri,” pesan Serka Toni kepada anak-anak.
Ia juga mengajak mereka untuk ikut menjaga kebersihan lingkungan dan tidak menjadikan parit sebagai tempat membuang sampah.
Menurutnya, kebersihan lingkungan bukan hanya tanggung jawab orang dewasa. Anak-anak juga perlu diperkenalkan sejak dini tentang pentingnya menjaga tempat tinggal dan lingkungan sekitar.
“Kita ingin anak-anak ini tetap aktif dan bahagia. Tetapi sejak kecil juga harus diberikan pemahaman tentang kebersihan dan keselamatan. Hal-hal sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan sebenarnya bisa dimulai dari mereka,” katanya.
Beberapa warga tampak berdiri tidak jauh dari lokasi. Seorang ibu berjilbab kuning terlihat tersenyum sambil mengawasi anak-anak yang sedang asyik bermain.
Ia mengaku tetap memperhatikan anaknya meski membiarkan mereka menikmati keseruan sore bersama teman-temannya.
“Namanya anak-anak, kalau sudah main kadang lupa waktu. Jadi kami tetap mengawasi. Tapi senang juga melihat Pak Babinsa mau duduk dan berbaur dengan anak-anak. Mereka jadi lebih dekat dan mau mendengarkan kalau diberi nasihat,” ujarnya.
Bagi sang ibu, kehadiran Babinsa di tengah lingkungan warga bukan sekadar menjalankan tugas. Ada nilai kedekatan yang tumbuh ketika seorang prajurit mau duduk di pinggir parit, berbincang, tersenyum, bahkan ikut menyaksikan kegembiraan anak-anak menemukan ikan.
Matahari perlahan mulai condong ke ufuk barat.
Cahaya sore yang sebelumnya terang mulai meredup. Namun, anak-anak itu masih belum sepenuhnya ingin mengakhiri permainan. Tangan mereka masih sibuk menyusuri air, berharap menemukan ikan berikutnya.
Sementara Babinsa Kelurahan Delima tetap berada di pinggir parit, sesekali tersenyum melihat tingkah mereka.
Sore itu mungkin tidak ada kegiatan besar. Tidak ada panggung. Tidak ada upacara. Tidak ada sambutan panjang.
Hanya sebuah parit, ember putih, lumpur, beberapa ekor ikan dan tawa anak-anak.
Namun dari peristiwa sederhana itulah, komunikasi antara Babinsa dan masyarakat terbangun secara alami.
Di tempat terpisah, Danramil 06/Sukajadi Kapten Inf Tayung, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (7/9/2026), mengatakan bahwa kedekatan Babinsa dengan masyarakat tidak selalu harus dibangun melalui kegiatan formal.
Menurutnya, Babinsa harus mampu hadir dalam berbagai situasi kehidupan masyarakat, termasuk ketika berinteraksi dengan anak-anak.
“Babinsa itu harus dekat dengan masyarakat. Bukan hanya dengan tokoh masyarakat atau orang dewasa, tetapi juga dengan anak-anak. Dari kedekatan seperti inilah komunikasi bisa terbangun dengan baik,” ujar Kapten Inf Tayung.
Ia menilai, pesan-pesan sederhana tentang kebersihan, keselamatan, kedisiplinan dan kepedulian terhadap lingkungan akan lebih mudah diterima ketika disampaikan dalam suasana santai dan penuh keakraban.
“Terpenting adalah bagaimana Babinsa bisa hadir dan memberikan pengaruh positif. Kadang tidak perlu kegiatan yang besar. Duduk bersama, berbincang dan memberikan nasihat sederhana juga merupakan bagian dari pembinaan teritorial,” pungkasnya.
Editor :Pendam XIX
Source : Koramil 06 Sukajadi