Gelap Menjelang, Danramil Merbau dan Tim Mabes TNI Hadang Api
Menjelang gelap datang, kobaran api terlihat membakar hutan dan lahan di Desa Sungai Anak Kamal, Kecamatan Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti. Secepatnya mengepul di tengah vegetasi, sementara cahaya matahari perlahan menghilang dari langit.
Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi prajurit di lapangan.
Di saat hari mulai gelap dan jarak pandang semakin terbatas, Danramil 06 Merbau Kapten Arh Rikcman Sinaga bersama Tim Penyuluhan Karhutla Mabes TNI langsung turun ke lokasi untuk menghadang laju kobaran api.
Tidak menunggu hingga kondisi terang kembali, personel segera bergerak melakukan pemadaman. Titik-titik api yang masih berkobar menjadi sasaran utama, sementara bara dan kepulan asap terus dipantau untuk mencegah api kembali menjalar.

Kapten Arh Rikcman Sinaga juga berada di tengah personel. Selain mengarahkan anggotanya, Danramil menjaga langsung kondisi medan dan perkembangan kobaran api serta memastikan koordinasi dengan unsur-unsur terkait terus berjalan.
"Begitu kita mengetahui adanya kebakaran, kita langsung bergerak. Jangan sampai api kita biarkan berkembang. Walaupun hari mulai gelap, selama masih bisa kita tangani, kita akan terus melakukan pemadaman semaksimal mungkin," tegas Kapten Arh Rikcman Sinaga.

Menurutnya, kondisi menjelang malam tidak bisa membuat penanganan terhenti. Terlebih lagi pada lahan yang terbakar, bara api yang masih tersimpan dapat memicu kobaran apabila tidak segera dilakukan pemadaman dan pendinginan.
“Kita tidak hanya melihat api yang berkobar, tetapi juga mencari titik-titik yang masih mengeluarkan asap dan bara. Semuanya harus kita kendalikan agar tidak meluas,” ujarnya.
Di bawah cahaya yang semakin redup, para personel terus bergerak. Panas api, asap, dan medan yang sulit untuk tidak menyurutkan langkah.
Tim Penyuluhan Karhutla Mabes TNI bersama personel Koramil 06 Merbau bersinergi melakukan penanganan di lapangan. Koordinasi dengan pihak terkait juga terus dilakukan untuk memperkuat pemadaman dan memastikan perkembangan situasi dapat terkendali.
Bagi seorang prajurit, ancaman yang muncul di wilayah tugas adalah panggilan untuk hadir.
Gelap bukan alasan untuk berhenti.
Ketika sebagian aktivitas mulai berakhir menjelang malam, Danramil bersama personel justru masih berada di lapangan. Mereka berjibaku memastikan kobaran api tidak mendapatkan ruang untuk berkembang.
Kapten Arh Rikcman Sinaga menegaskan bahwa keselamatan masyarakat dan pencegahan meluasnya Karhutla menjadi perhatian utama dalam penanganan tersebut.
“Kami akan terus berkoordinasi dan bergerak bersama berbagai pihak. Harapannya, api dapat segera dikendalikan sehingga tidak meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Peristiwa di Desa Sungai Anak Kamal menjadi gambaran nyata pengabdian prajurit di wilayah teritorial.
Saat langit mulai gelap, semangat justru tetap menyala.
Danramil bersama Tim Mabes TNI memilih berada di tengah kepulan asap, menghadang api sebelum semakin meluas.
Karena bagi prajurit, tugas tidak berhenti ketika matahari terbenam. Selama masih ada api yang mengancam, langkah pengabdian akan terus berjalan.(Ramil06Merbau)
Editor :Tim Sigapnews