Asap Mulai Menipis, Babinsa Air Putih Ingatkan Warga Jangan Bakar Lahan
Serka Wiyono mengajak warga menjaga kondisi yang mulai membaik dengan tidak membuka ataupun membersihkan lahan menggunakan api.
Pekanbaru - Hujan deras yang mengguyur Kota Pekanbaru selama dua hari terakhir membawa sedikit kelegaan. Asap yang beberapa hari sebelumnya menyelimuti udara perlahan menipis. Anak-anak yang sempat diliburkan dari sekolah pun mulai kembali belajar.
Namun, bagi Babinsa Koramil 06/Sukajadi Kodim 0301/Pekanbaru, Serka Wiyono, hujan bukan alasan untuk melupakan ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Di Jalan Garuda Sakti KM 2, Kelurahan Air Putih, Kecamatan Tuah Madani, Senin (31/8/2026), Serka Wiyono duduk dan berbincang bersama warga. Tidak ada jarak. Obrolan berlangsung sederhana, tetapi menyentuh persoalan yang beberapa hari terakhir begitu dekat dengan kehidupan masyarakat: asap dan Karhutla.
Serka Wiyono mengajak warga menjaga kondisi yang mulai membaik dengan tidak membuka ataupun membersihkan lahan menggunakan api.
“Alhamdulillah, hujan sudah turun dua hari. Asap juga mulai berkurang dan anak-anak sudah kembali beraktivitas. Kita tentu berharap kondisi ini terus membaik. Karena itu, jangan sampai ada lagi pembakaran lahan yang justru membuat asap kembali menyelimuti kita,” katanya.
Menurut Babinsa Kelurahan Air Putih, Karhutla bukan sekadar persoalan lahan yang terbakar. Asap yang ditimbulkan dapat mengganggu kesehatan, terutama memicu gangguan pernapasan atau ISPA. Di sisi lain, kebakaran juga dapat merusak ekosistem dan mengganggu aktivitas masyarakat.
“Kalau lahan terbakar, dampaknya ke mana-mana. Udara menjadi tidak sehat, anak-anak terganggu sekolahnya, masyarakat tidak nyaman beraktivitas, lingkungan juga rusak. Jadi mari sama-sama kita jaga,” ujarnya.
Bagi warga, dampak asap beberapa hari terakhir masih menyisakan pengalaman yang tidak ingin terulang.
“Waktu asap tebal, anak-anak tidak bisa sekolah seperti biasa. Kami juga khawatir dengan kesehatan mereka. Sekarang setelah hujan, udara sudah jauh lebih enak dan aktivitas mulai normal. Mudah-mudahan tidak ada lagi kebakaran,” ujar salah seorang warga, Andi.
Ia mengaku pesan yang disampaikan Babinsa mudah diterima karena disampaikan secara langsung dan dalam suasana kekeluargaan.
“Kami sebagai warga tentu harus ikut menjaga. Kalau melihat ada yang membakar lahan, kami bisa saling mengingatkan. Jangan sampai karena satu orang, semua orang terkena dampaknya,” katanya.
Danramil 06/Sukajadi Kapten Inf Tayung, saat ditemui di ruang kerjanya mengatakan pendekatan kepada masyarakat menjadi salah satu cara penting dalam mencegah Karhutla.
Menurutnya, Babinsa tidak hanya hadir ketika terjadi persoalan, tetapi juga berada di tengah masyarakat untuk membangun kesadaran sejak dini.
“Babinsa kami terus melakukan komunikasi dengan masyarakat. Kita ingin pencegahan dilakukan sebelum api muncul. Masyarakat harus menjadi bagian penting dalam menjaga lingkungan,” ujar Kapten Inf Tayung.
Ia mengingatkan hujan yang turun dan berkurangnya asap saat ini patut disyukuri, tetapi kewaspadaan tetap harus dijaga.
“Jangan menunggu asap kembali tebal baru kita peduli. Justru ketika kondisi mulai membaik seperti sekarang, kita harus menjaga agar tidak kembali terjadi kebakaran,” katanya.
Kapten Inf Tayung menegaskan menjaga lingkungan bukan semata-mata tugas aparat. TNI dan masyarakat harus berjalan bersama karena dampak Karhutla dirasakan oleh semua lapisan.
“Tidak ada jarak antara Babinsa dan masyarakat. Kita sama-sama tinggal di lingkungan ini, menghirup udara yang sama dan ingin anak-anak kita bisa belajar dengan tenang. Karena itu, mari kita jaga bersama. Jangan bakar lahan,” pungkasnya.
Editor :Pendam XIX
Source : Koramil 06 Sukajadi