Tim Mabes TNI Sosialisasikan Pencegahan Karhutla di Desa Sukarjo Mesim
Rupat, Bengkalis — Upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terus diperkuat melalui sinergi TNI, Polri, pemerintah desa, serta masyarakat. Kegiatan sosialisasi pencegahan Karhutla kali ini dilaksanakan di Desa Sukarjo Mesim, Kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis.
Kegiatan tersebut melibatkan Tim Penyuluhan Mabes TNI, di antaranya Kolonel Tek I Wayan Joni dan Mayor Inf Sugiyanto, bersama Tim Pendamping dari Kodim 0303/Bengkalis sebanyak enam personel.
Dalam kegiatan tersebut, Tim Pendamping Kodim 0303/Bengkalis dipimpin Danramil 04/Rupat Lettu Inf Budiansyah Saragih, yang diwakili Peltu Suardi.
Turut hadir Kepala Desa Sukarjo Mesim Agafri, SE, perwakilan Kapolsek Rupat melalui Bhabinkamtibmas Bripka Odwin, serta Ketua BPD Syaipudin. Kegiatan juga melibatkan unsur RT/RW Desa Sukarjo Mesim sebanyak 25 orang, BPBD Kecamatan Rupat enam personel, Linmas delapan personel, serta Masyarakat Peduli Api (MPA) tujuh personel.
Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan bersama di tingkat desa. Edukasi diberikan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai bahaya Karhutla, sekaligus mendorong kepedulian dan langkah antisipasi sejak dini terhadap potensi kebakaran.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga lingkungan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di wilayah yang memiliki kerawanan terhadap Karhutla.
Sinergi antara aparat, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan sistem pencegahan yang lebih kuat. Dengan kepedulian bersama, potensi Karhutla dapat diantisipasi lebih awal sehingga dampaknya terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat dapat diminimalkan.
Dalam sosialisasinya, Tim Mabes TNI mengajak seluruh masyarakat, khususnya warga Kelurahan Tanjung Kapal dan Desa Darul Aman, untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan meningkatkan kepedulian terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan.
Masyarakat juga diimbau agar tidak memberikan ruang kepada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, terutama pihak dari luar wilayah, yang hendak membuka lahan untuk perkebunan dengan cara membakar. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah munculnya titik api yang dapat berkembang menjadi kebakaran lebih luas.
Tim juga mengingatkan bahwa Karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat menimbulkan asap dan polusi udara yang mengganggu kesehatan masyarakat. Bahkan, asap kebakaran dalam kondisi tertentu dapat terbawa hingga ke wilayah negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Selain menjaga lahan, masyarakat diajak untuk turut menjaga sumber-sumber air yang tersedia di wilayah masing-masing, termasuk embung, yang dapat menjadi salah satu sumber pasokan air apabila sewaktu-waktu terjadi kebakaran.
Dalam upaya memperkuat kesiapsiagaan, warga yang memiliki lahan perkebunan juga diharapkan dapat berpartisipasi dengan menyediakan sebagian lahannya, apabila memungkinkan, untuk pembangunan embung maupun akses jalan menuju lokasi perkebunan. Keberadaan embung dan akses jalan tersebut akan sangat membantu petugas maupun masyarakat ketika melakukan penanganan kebakaran.
Apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan, masyarakat diminta segera melaporkan kejadian tersebut kepada pihak terkait agar dapat ditangani sedini mungkin. Saat melakukan upaya pemadaman awal, masyarakat juga diingatkan untuk mengutamakan keselamatan dengan tidak bertindak seorang diri, melainkan dilakukan secara bersama-sama dan minimal melibatkan dua orang.
"Jangan bertindak sendiri. Keselamatan tetap menjadi yang utama. Jika menemukan titik api, segera laporkan agar dapat ditangani bersama," demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Melalui kepedulian dan gotong royong seluruh elemen masyarakat, upaya pencegahan Karhutla diharapkan dapat dilakukan sejak dini, sekaligus menjaga lingkungan tetap aman dan sehat bagi masyarakat.
Editor :Tim Sigapnews